Tuesday, August 19, 2008

Apakah Anda Bos yang Baik?

Bos yang baik, dalam tilikan yang paling sederhana bisa dikatakan adalah bos yang bisa memberi kemudahan bagi karyawannya. Yakni, membantu menciptakan situasi yang memungkinkan karyawan bekerja tanpa rintangan. Sederhana bukan? Tapi, implementasinya tentu tak sesederhana itu.

David Sirota, pimpinan Sirota Survey Intelligence, sebuah lembaga riset di New York memberi panduan lewat buku yang dia tulis bersama dua rekannya, berjudul The Enthusiastic Employee: How Companies Profit by Giving Workers What They Want. Apakah Anda termasuk bos yang baik, atau buruk?

Mulailah dengan pertanyaan mendasar: Apa yang membuat seorang bos baik di mata karyawan?

Semua riset yang dilakukan Sirota atas ribuan karyawan sejak 1972, secara konsisten memperlihatkan bahwa secara umum orang punya tiga tujuan dalam bekerja. Pertama, keadilan –mereka ingin merasa bahwa keberadaan mereka diakui dan dihargai sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.

Kedua, pencapaian –orang ingin bangga dengan perusahaannya dan tempat di mana ia berada. Ketiga, persahabatan, dalam arti hubungan kerja yang baik dan rasa ikut terlibat dalam tim. Jika tiga hal tersebut terpenuhi, Anda punya karyawan yang bersemangat.

Masalahnya adalah, pada sebagian besar perusahaan, semangat karyawan baru begitu tinggi, tapi kira-kira 6 bulan kemudian menurun secara tajam. Manajemen telah merusaknya. Yang dilakukan oleh bos yang buruk adalah membuat karyawan merasa tidak aman dengan pekerjaannya. Juga, memperlakukan karyawan layaknya anak kecil atau pelaku kriminal daripada orang dewasa yang bisa bertanggung jawab.

Tanda lain dari bos yang buruk adalah apabila karyawannya mengeluh, “Jika kami melakukan kesalahan, kami dimarahi tapi kalau kerjaan beres tidak ada ada ucapan terima kasih.”

Tapi, mungkin Anda bertanya, mengapa perusahaan harus peduli apakah karyawannya (masih) bersemangat atau tidak –yang penting kan pekerjaan mereka selesai? Menurut Sirota, banyak bukti persuasif mengenai hubungan langsung antara moral (semangat) karyawan dengan kinerja secara keseluruhan dari perusahaan, termasuk harga sahamnya di pasar. Karyawan yang bersemangat akan memperlakukan customer dengan baik, dan itu akan sangat berbeda dengan karyawan yang sudah tidak bersemangat.

Tidakkah sebagian besar bos –bahkan yang buruk- berpikir bahwa mereka telah melakukan hal yang benar? Jika Anda seorang manajer, bagaimana Anda mengatakan pada bawahan bahwa Anda bos yang baik, atau buruk?

Cara yang paling meyakinkan untuk menjawab pertanyaan itu adalah meminta tanggapan dari karyawan. Apa yang mereka pikirkan atas apa yang Anda kerjakan? Di sinilah, evaluasi 360 derajat sangat berguna, karena cara itu memberi kesempatan pada setiap orang untuk mengkritisi Anda secara konstruktif. Jika perusahaan Anda secara formal tidak memiliki program 360 derajat itu, Anda harus mengumpulkan pendapat orang mengenai diri Anda.

Tapi, berhati-hatilah dengan cara Anda bertanya. Sebab, orang sering takut untuk berkata jujur kepada bosnya. Mungkin Anda perlu sedikit training mengenai bagaimana memulai diskusi, sehingga Anda benar-benar bisa memetik pelajaran yang berharga dari sana.

Ref: http://www.portalhr.com/tips/2id44.html


0 comments:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More